
Jepang, ya, siapa orang tak kenal negara yang sangat eksis di dunia ini, negara yang kebanyakan orang bilang "Negara Sakura" atau saya bilang "pervert country" ini sudah banyak berpengaruh pada dunia, apalagi selain hiburan dramanya, anime, manga, playstation, sega, nintendo, semuanya berasal dari negeri ini. dan mungkin masih kebanyakan orang asing berpikir bahwa orang jepang masih berbusana kimono, yukata, dll. tapi itu hanya dalam acara tertentu saja dipakainya. sekarang kehidupan di Jepang sudah menjadi modernisme, yang dimana serba mudah, cepat, tersedia.
berikut informasi mengenai jepang saat ini.
Kepadatan penduduk.
kepadatan penduduk Jepang meningkat cukup tinggi dan ini bisa dilihat dari situasi di kota-kota besar dan stasiun-stasiun Kereta Api dimana konsentrasi manusia jauh meningkat dan jalan-jalan raya makin dipenuhi dengan mobil-mobil yang menyebabkan kemacetan. Namun, masalah timbul yaitu dikala pertambahan penduduk Jepang asli merosot karena makin sedikit muda-mudi Jepang modern yang menikah dan makin populernya budaya beranak sedikit karena mahalnya biaya hidup dan harga rumah, dikala itu makin banyak pendatang 'haram' dari Amerika Latin, Asia dan Afrika yang mencari rejeki dinegara kaya ini. Akibatnya ada dorongan pemerintah agar orang Jepang asli bersedia beranak sampai 5.
Kemajuan teknologi.
Ketika kunjungan pertama, mesin fax mulai dikenal sekalipun saat itu di Indonesia belum, namun sekarang rata-rata penduduk Jepang memiliki HP generasi ke-3 yang ringan yang bisa dipakai untuk tilpon, game, e-mail, bahkan sudah ada yang menggunakan HP dengan layar TV dimana pasangan yang ber-HP bisa saling memandang. Dulu Shinkansen (KA peluru) yang pernah dinaiki dari Tokyo ke Hiroshima kecepatannya 200 KM per jam, namun sekarang sudah ada Shinkansen yang kecepatannya dua kali angka itu! Teknologi pembangunan makin meningkat dan mainan anak-anak di toko banyak diisi mainan robot. Kalau kita jalan-jalan di 'electric city' Akihabara di Tokyo, kita sudah sukar menjumpai camera lensa yang lama sebab sudah digantikan camera digital yang canggih dan mini.
Kemajuan ekonomi.
Tidak dapat disangkal Jepang merupakan surga bagi pencari kerja karena memang ekonomi telah mengalami kemajuan yang luar biasa berkat ekspansi industri global perusahaan-perusahaan Jepang, dan ini mendatangkan kemakmuran luar biasa pada para buruh dan penduduk. Bayangkan dalam kunjungan pertama kurs 1 Yen = Rp.4 sekarang sudah = Rp.90, suatu kenaikan lebih dari dua puluh kali lipat! Rata-rata makanan perporsi di Restoran bila di-kurs mencapai Rp.100.000,- sekali makan, dan umumnya orang Jepang bisa dengan mudahnya makan di restoran-restoran. Dikala kurs Yen meningkat di kala itu harga-harga mobil relatif murah dan mobil-mobil bekas yang notabena lebih murah dari mobil bekas di Indonesia sehingga banyak orang Jepang berganti-ganti mobil sekalipun kondisinya masih prima.
Kehidupan hedonistik.
Konsekwensi logis kehidupan modern di Jepang adalah bahwa generasi muda memasuki kehidupan yang hedonistik, pesta pora dengan musik dan minuman keras menjadi bagian banyak kehidupan anak muda dan orang dewasa, dan restoran dan pub penuh di malam hari karena generasi muda sekarang memiliki kebiasaan minum-minum sepulang kantor. Siaran TV didominasikan oleh anak-anak muda Jepang yang menyanyikan lagu-lagu Rock dengan kebiasaan mengecat rambut-rambut mereka dengan warna pirang dan memotong rambut mereka bergaya punk. Majalah dan film porno sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kios-kios di stasiun-stasiun umum.
Kemerosotan sosial-budaya.
Tidak terhindarkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi yang merintis jalan hidup hedonistik itu mendatangkan kemerosotan dalam banyak bidang yang menunjukkan dengan jelas bahwa masyarakat muda Jepang sekarang hidup dalam era posmo. Survai baru-baru ini menunjukkan bahwa generasi muda Jepang lebih rapuh dari generasi pendahulunya, dan sekitar 70 persen tidak lagi menyukai huruf kanji. Ini dapat dimengerti karena kalau generasi pendahulunya menikmati hasil yang diperoleh dari kerja keras dan perjuangan sehingga menghargai hasilnya, generasi muda menikmati hasil dari warisan dan tidak tahu bagaimana berjuang untuk mempertahankannya. Kalau dahulu banyak wanita berkimono dan rambut bergelung bisa dilihat di jalan-jalan umum, sekarang gadis-gadis ber-rok mini dengan rambut dicat pirang menguasai pemandangan. Kalau dulu perkawinan sifatnya langgeng sekalipun budaya perkawinan yang dibumbui selir merupakan bagian dari budaya namun sekarang feminisme makin diminati dan kaum perempuan berani menuntut haknya, bahkan Perdana Menteri yang baru Koizumi mengalami perceraian. Terutama di Tokyo, kemabukan menguasai banyak orang dan banyak yang bunuh diri melompat ke jalur kereta api.
Kemerosotan agama.
Modernisasi telah mengikis kehidupan beragama, dimana falsafah nihilisme dan keyakinan bahwa mereka bisa maju tanpa Tuhan sudah banyak menguasai pemikiran orang Jepang sehingga mereka umumnya menolak agama-agama wahyu dan beranggapan bahwa 'Tuhan tidak ada.' Agama sekedar dijadikan kios di pinggir jalan terlihat dengan makin meluasnya budaya sinkretisme dalam hidup. Makin banyak keluarga membawa bayi yang baru lahir ke kuil Shinto, dan si anak kalau kelak menikah diberkati di gereja Kristen dan kalau mati diiringi upacara agama Buddha. Agama menjadi sekedar simbol tanpa arti, sikap beragama hanya bersifat permukaan tanpa kedalaman.
Fanatisme premordial.
Disamping kemerosotan dalam banyak bidang ada juga kebangkitan atau lebih tepat disebut kembalinya fanatisme premordial dan nilai-nilai lama. Aliran Aum Srinkiyo tega menaburkan gas Sarin di stasiun kereta api bawah tanah yang mengorbankan banyak orang. Sampai sekarang masih banyak para tokoh ini yang terus diburu yang gambarnya di pasang di stasiun-stasiun padahal para pengikut ini banyak yang menjadi profesor di universitas terkemuka di Jepang. Belum lama ini Bendera dan lagu kebangsaan Jepang yang lama itu diresmikan, padahal lambang-lambang yang sebenarnya menggambarkan pemerintahan feodal, mulai banyak orang Jepang angkatan tua yang membenarkan kalau Jepang menguasai negara-negara lain demi ekspansi tanah air, demikian juga di banyak kota besar bisa dijumpai kelompok aliran kanan garis keras yang membela kaisar yang dengan bis-bis hitam berlalu lalang di jalan-jalan kota sambil menyerukan lagu-lagu kekaisaran.
Dampak pluralisme.
Perbenturan budaya dengan para pendatang mulai kelihatan karena umumnya para pendatang dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan datang sebagai imigran gelap dan kini menguasai sektor buruh kasar baik di sektor konstruksi, otomotiv, perikanan maupun lainnya, yang rela digaji lebih rendah. Situasi ini dikuatirkan oleh pemerintah dan masyarakat Jepang dapat menghasilkan destabilitas tatanan masyarakat. Ketika dijemput teman ke Tokyo dari Mito, dalam perjalanan berangkat, teman itu dompetnya terjatuh di toilet umum dan ketika kembalinya diusulkan untuk mengunjungi lokasi yang ditengarai sebagai tempat hilangnya dompet itu, "tenang saja" katanya, soalnya kalau dompet itu ditemukan oleh pendatang tentu sudah hilang, namun kalau ditemukan oleh orang Jepang pasti akan kembali. Benar, besoknya pemilik apartemen teman itu menerima tilpon dari orang Jepang di Tokyo yang menemukan dompet tersebut. Memang para 'pendatang haram' itu mulai menjadi bak buah simalakama, disatu segi mereka diperlukan untuk menangani pekerjaan buruh kasar yang sudah tidak diminati oleh angkatan muda Jepang, di pihak lain mereka dianggap pesaing dan perusuh yang bisa merusak tatanan hidup di Jepang.
Dari beberapa lintas-pengamatan diatas, kita di Indonesia yang sedang menuju negara industri bisa belajar banyak dari semangat dan ketekunan kerja di Jepang yang membuat mereka berhasil maju, namun kita perlu berhati-hati agar tidak mengalami dampak era posmo yang merusak yang sekarang banyak dialami masyarakat Jepang.

No comments:
Post a Comment