Saturday, September 19, 2009

Buku Digital, waaw!!! boleh juga nii!!!

Buku merupakan jendela dunia. Dengan membaca buku tanpa beranjak, Anda dapat mengetahui berbagai hal maupun tempat yang ada di dunia. Namun, terkadang, merawat buku terkadang bukanlah hal yang mudah. Terlebih, jika buku itu telah berusia puluhan tahun.

Buat mengatasi hal itu, belum lama ini pengelola perpustakaan Universitas Ghent, Kota Ghent, Belgia, telah menemukan solusinya. Di balik gedung yang berarsitektur art deco, terdapat jutaan judul buku yang bisa digunakan para mahasiswa untuk mencari referensi. Seperti umumnya mencari buku, harus dimulai dengan membuka katalog, baru kemudian mencarinya di rak penyimpanan buku.

Tapi cara ini mungkin akan segera digantikan dengan cara baru berbasis internet. Yaitu cukup masukan data buku yang akan dicari, kemudian klik, maka buku pun akan muncul di layar komputer. Cara baru ini merupakan hasil kerja sama mesin pencari Google dengan perpustakaan Universitas Ghent. Sejak 2007, sudah lebih dari 300 ribu judul buku yang sudah bisa diakses dalam jaringan (daring) atau online. Sedangkan jumlah buku yang sudah selesai dipindai, jumlahnya jauh lebih banyak, yaitu sekitar 10 juta judul.

Langkah menuju perpustakaan daring ini pun mendapat sambutan baik. Seperti yang diungkapkan Doktor Sylvia Van Peteghem, Kepala Perputakaan Universitas Ghent. Menurutnya, memindahkan buku terbitan abad ke-19 ke dalam bentuk digital tentunya akan sangat menguntungkan. Sebab, dunia seakan memiliki perpustakaan serta ruang baca tambahan yang buka 24 jam selama tujuh hari.

Meskipun demikian, cara ini bukannya tanpa kendala karena salah-salah bisa berakhir dengan perkara. Ada baiknya, sebelum mengubahnya menjadi buku digital, pembicaraan dengan penerbit atau penulis terkait apakah mereka bersedia atau tidak jika bukunya dibuat menjadi buku digital menjadi persyaratan yang mutlak. "Tentunya akan ada alasan dan pertimbangan tertentu jika mereka memutuskan untuk menolaknya. Apa pun alasannya, keputusan itu harus dihormati," ucap Direktur Federasi Penerbit Eropa Anne Bergman-Tahon.

Pasalnya, pihak Google sempat didenda US$ 125 juta karena terlalu bersemangat memindahkan berbagai judul buku dan tidak mengindahkan persyaratan itu. Namun kini, Google mengaku akan mempertimbangkan aspek hukum terlebih dahulu sebelum memindahkan satu judul buku ke media di dunia maya.

"Kami selalu berhubungan dengan penerbit dan pemegang hak buku sebelum memindainya. Tapi di Eropa, kami berhubungan dengan perpustakaan untuk memilih buku yang termasuk dalam warisan budaya dan buku yang termasuk dalam ranah publik," kata Manager Kerja Sama Strategis Google Philippe Colombet.

Apa pun bentuknya, digital ataupun konvensional, manfaat buku semestinya dapat dipetik dan dinikmati oleh semua orang. Dengan demikian, pengetahuan yang terkandung di dalamnya tidak dibiarkan diam tak tersentuh dan akhirnya dilupakan

No comments:

Post a Comment